Home » » Sinopsis Novel: Ronggeng Dukuh Paruk

Sinopsis Novel: Ronggeng Dukuh Paruk


Judul : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978 – 979 – 22 – 7728 – 9
Isi : 408 halaman
Cetakan : November 2011

Oleh Taufiq Nugroho

Novel ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala, ini berarti dengan membeli satu buku kita dapat tiga buku sekaligus. Apalagi dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun, membuat saya penasaran dengan isi buku karya Ahmad Tohari ini. Ahmad Tohari adalah penulis kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 yang tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaanya. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada buku ini.


Novel ini mengambil setting sekitar tahun 1965an. Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru di Dukuh Paruk, bagi pedukuhan ini ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi, cantik dan menggoda. Semua ingin merasakannya. Dari kawula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik membuat dukuh tersebut hancur secara fisik maupun mental. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena di penjara. Pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan hakikatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia ingin menjadi wanita somahan. Sepercik harapan muncul ketika Bajus muncul. Mesti akhirnya, ia kembali terhempas.

Dalam novel ini Dukuh Paruk adalah gambaran secara jelas dimana pola pikir dan budaya masyarakat sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi dan tingkat pendidikan. Muatan gender juga sangat terasa dimana Srintil (wanita) lebih dianggap sebagai objek oleh kebanyakan orang, dan ironisnya kebanyakan wanita pun merasa bangga dengan keadaan ini.

Cerita tentang kesenian rakyat yang terbawa pada arus politik yang mengakibatkan para pelakunya dituduh sebagai manusia yang mengguncangkan negara, bahkan orang-orangnya ditahan dan harus menyandang status “tapol” membuat saya bertanya-tanya tentang awal pembangunan sebuah rezim dinegri ini.

Satu-satunya kekurangan buku ini menurut saya adalah pengaturan line spacingnya yang terlalu rapat, membuat mata pembaca cepat lelah. Namun secara keseluruhan, buku ini bagus dan sangat layak sebagai koleksi.[]

Temukan artikel-artikel menarik tentang ke-Indonesia-an dan lokalitas hanya di www.ahmadtohari.com.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan menjatuhkan jempol manismu disini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Toko Dompet

Posting Terbaru

Karya Ahmad Tohari

Copyright © 2013 Ahmad Tohari Pages . All rights reserved.. Diberdayakan oleh Blogger.